*** mulai april 2010, kategori luvislam dipindah ke blog SahabatRasul, ini menjawab pertanyaan kenapa isi blog menjadi berubah. sebenarnya tidak berubah, tetapi agar lebih tematik saja. *** syukron atas perhatiannya, dan siap menerima kritikan(^.^) syukron atas kunjungannya sobat(".") syukron atas segalanya(^.^) ***

[luvShare] Mana Ada Anak Sapi Minum Susu Manusia

jadi ngerasa diri kanibal...omnivora...rakus... wheew...

Thanks ya sarannya dari suzhu dan semar postingan kemaren… wa pengennya sih suz, ada yang buatin juga he.. [males mode:on] tapi nih, 3 hari yang lalu temenku kirim email tentang susu, jadi takut deh minum susu selain menyebabkan kegemukan, kanker usus, trus emang mahal hoho… dibaca aja yah, walo panjang tapi berkhasiat hehe.. tapi intinya itu… saya juga mau umur panjang sepert Prof. Dr Hiromi Shinya dan berkah tentunya...  beruntung nih newsoul doyannya kopi.

Buat zujoe, awal, dan yang nyuruh itung2an pak semar lagi… capee dee… aku lebih banyak baca 7 yang berulang [u know la..] dan minum madu aja, kemaren pasokan madu udah abis sih, mudah-mudahan seperti kata rana dan bunda annin, gak selamanya demikian dan ga lama di depan kompie… masalahnya bun, kalo kerja data ya musti depan leptop dan minggu ini semoga kerja udah normal lagi…

Artikel berikut bukan untuk menakut-nakuti atau membuat bingung...Hanya untuk brain storming saja ;) Link aseli di sini. Judul aseli: Susu Sapi Bukan untuk Manusia

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu-kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging. [Alhamdulillah saya ga doyan daging, Prof...]

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.

Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat. [saya ga mau Prof jadi temen lomba larinya harimau...]

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering. [masalahnya Prof, saya lebih sering yang sesekali itu...:(]

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan. [ini kata si penulis lho.. bukan kata saya... tapi saya juga mau sehat]

21 komen:

Ponco Susanto 6:35 PM, June 07, 2009  

Nih ada kontes blog berhadiah laptop daftar aza disini

Dunia Polar 6:48 PM, June 07, 2009  

bte emang bisa yah mbak usus benjol2??
duh jd ngeri deh aku..

zujoe 7:26 PM, June 07, 2009  

aaaaaaaaaa.....

ehh napa ya? oia aku ke sini mo baca dan ngomeng...

waaattt??? untung aku jarang minum susu tapi pernah juga sih...

lha... jadi yang salah ntu iklannya ya mbak bek...???

kalo gitu besok aku nggak mau minum susu ahh.... nanti kalo di tanya ya saia bilang aja "mbak bek yang nyaranin hohohoho..."

zujoe 7:30 PM, June 07, 2009  

aaaaaaaaaaaaaaa....

ehh aku tadi dah ngomeng ya?

mwehehehe... jadi nyepamm ahh hohoho....

umi rina 9:24 PM, June 07, 2009  

Nice Article Ducky...it's my 3rd times to read the same article about Prof. Hiromi... :)

Hidup sehat itu sebagian dari rasa bersyukur kita, jadi diusahakan yang sebaik mungkin ;)

Rana Rasuna 5:49 AM, June 08, 2009  

umm... kalo buat diriku sih perut tetap flat coz susu, daging, goreng2an emank ga doyan mbak...
cuma kalo sayur udah dari sononya doyan banget, dan urusan ngunyah makanan juga suka lama,, makanya kalo makan bareng teman suka kalah cepat, jadi rugi kebagian bayar mulu...hehehe

kawanlama95 6:46 AM, June 08, 2009  

deen maaf baru beredar lagi. ini postingan kayanya aku pernah baca dimana ya.wah kalo makan daging emang enak seeh apa lagi kalo palu basa. tapi abis itu jangan balapan lari.

wah kalo ngunyah kadang ga terpikir ,ngitung coba ya nanti aku hitung, bareng2 ya makannya dimana?

bagus nih postingannya aku baca 2kali

annosmile 8:03 AM, June 08, 2009  

wah..
serem
harus merubah pola makan yang sehat nih..

mommy adit 9:11 AM, June 08, 2009  

nita suka banget ma daging... daging ikan, kambing, sapi, ayam, bebek, burung.. pokoknya perdagingan!! sampe pernah kena ambeyen.. kata dokter: kebanyakan makan daging sepertinya.. huhuhuhu.. emang beberapa hari sebelum ke dokter itu, makan rendang terus...gimana donk?

J O N K 10:00 AM, June 08, 2009  

untung saya lebih suka minum air kran daripada susu , jadinya kayaknya sehat deh heheheheh

wah harus jadi vegetarian nih kayaknya :D, tak coba deh.

BTW, mau porotes heuheuheu, saya kan Ultahnya masih lama :P

semar 10:01 AM, June 08, 2009  

kalo minum susunya dikunyah dulu di mulut, bisa nyamour ga enzim nya... ?

Newsoul 10:49 AM, June 08, 2009  

Mantap. Judulnya menggoda. Sy jwb neh ducky, bisa aja....tunggu manusia jadi ternak dan sapi jadi manusia, hehe. Menjadi vegetarian itu katanya mmg lebih sehat, tp susu hewan sbg minuman bergizi rasanya msh perlu, terutama pd balita yg tdk lg mengkonsumsi ASI. Kita tunggu aja kelanjutan dr conter atas hasil penelitian prof.Hiromi ini. Nice posting.

Dinoe 11:19 AM, June 08, 2009  

nice info...

Seti@wan Dirgant@Ra 1:14 PM, June 08, 2009  

Lah.... kalau sapi jadi manusia? manusia jadi apa?

Manusia jadi banyak dong....Wkwkwkwk

yambung nggak? nggak khan? wkwkwkwkwk

gubraaaaakkk......kuabbbuuurrrr

SENDAL JEPIT 3:14 PM, June 08, 2009  

ada lagi anak sapi minum susu manusia
(tuhkan yang baca tulisan ini pasti bingung)

SENDAL JEPIT 3:14 PM, June 08, 2009  

ada yang kelupaan, saya belum nyepam

JONKgakKece 4:04 PM, June 08, 2009  

Deeee :D, saya datang lagi, ultahnya kapan ya ? kamu kapan ? hehehehe

kalau gak ada kesalahan teknis, saya nambah tua tgl 17 wkwkkwkwkwkwkk ...

Awal Sholeh 4:53 PM, June 08, 2009  

awal suka susu dan madu din, baik buat kesehatan. lah kok malah curhat neh. lepi CQ 40 aku kena virus din. hiks... neh aku bagi2 virus ketempatmu... ;)

Awal Sholeh 4:53 PM, June 08, 2009  

mau nyepam dan bagi2 virus lagi.

Awal Sholeh 4:56 PM, June 08, 2009  

sekarang pake antivirus apa? masa program aku dikira virus sama anti vir. keterlaluan bgt...

Sharing is Fun 6:08 PM, July 04, 2009  

Hmmm...saya pernah trm email yg isi na mirip dgn artikel ini. Slm knal smua na. Anyway...please visit me and leave comment. I'll wait 4 it...

Post a Comment

komen nyookk :)
kalo gag punya blog, pilih NAME/URL yaaa..URLnya isi aja akun (pilih satu): FB, Twitter, FS, Email, Plurk, Gtalk/YM, MySpace, YouTube atau apapun -oOo- thanks a lot ^_*